4 Faktor Yang Mempengaruhi Obesitas Pada Orang Dewasa : Part 2

4 Faktor Yang Mempengaruhi Obesitas Pada Orang Dewasa : Part 2

3. Infeksi Jamur Candida Albicans

Jamur candida albicans sebenarnya tidak bersifat membahayakan.Jamur ini secara alami menghuni saluran pencernaan dan vagina.Dalam kondisi normal, jamur ini hidup harmonis dengan tetumbuhan yang menghuni usus (dikenal dengan prebiotik). Jika tubuh dalam kondisi sehat maka jamu candida albicans tidak akan menimbulkan masalah karena diimbangi oleh bakteri baik probiotik (Amirta:2007).

Sayangnya bakteri baik dalam probiotik bisa terbunuh oleh beberapa kesalahan pola hidup, obat-obatan, dan faktor fisiologis lain. Pembunuh bakteri baik gula secara berlebihan, konsumsi karbohidrat berlebihan, konsumsi karbohidrat berlebihan, pil kb, kehamilan, minuman keras, dan perubahan hormonal.

Ketidakseimbangan kuantias antara bakteri baik dan jamur candida albicans inilah yang akan menimbulkan masalah, yaitu infeksi janur candida albicans. Perlu dicatat bahwa jamur candida albicans ini sulit dibasmi dalam kondisi sistemik, karena jamur yang lain. Gejala yang muncul saat terkena infeksi jamur candida albicans antara lain:

–        Berat badan meningkat;

–        Penurunan kinerja system imunitas;

–        Depresi;

–        Rasa lelah berkepanjangan (fatigue);

–        Vaginitis;

–        Gangguan pencernaan;

–        Infeksi telinga;

–        Sinus;

–        Gatal-gatal;

–        Sensitive terhadap bahan kimia; dan

–        Cacingan.

4 Faktor Yang Mempengaruhi Obesitas Pada Orang Dewasa  Part 2

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4. Fibromyalgia (FM) dan Chronic Fatigue Syndrome (CFS)

Keduanya dipengaruhi oleh tidak berfungsinya kelenjar adrenalin dan kelenjar tiroid dengan baik.Selain itu, FM dan CFS biasanya kurang mengonsumsi sayuran dan biji-bijian yang mengandung mineral magnesium.

FM mempunyai gejala berupa rasa sakit pada otot, sedangkan CFS mempunyai gejala yang serupa seperti lelah berkepanjangan dan pegal linu.Gejala ini berlangsung secara kontinu dan disertai rasa lesu serta tidak bernafsu untuk melakukan aktivitas.

Menurut Prihaningtyas dalam Diet Tanpa Pantangan, kegemukan dapat terjadi pada berbagai rentang waktu.Pertama, gemuk saat bayi.Kegemukan pada bayi lebih disebabkan karena kurangnya pengetahuan orangtua bayi tentang gizi dan nutrisi, sehingga tak jarang para orangtua memberikan asupan makanan dan nutrisi yang berlebihan.Kedua, kegemukan terjadi pada saat anak-anak.Pada masa ini anak biasanya melakukan banyak aktivitas sehingga kalori yang masuk seimbang dengan kalori yang keluar.Sayangnya, tidak semua anak menghabiskan waktu untuk beraktivitas fisik. Terlebih, saat ini keberadaan teknologi semacam gadget dan televise membuat anakan lebih sering menghabiskan waktu di depan layar daripada melakukan aktivitas fisik. Ketiga, kegemukan terjadi pada saat dewasa. Pada level dewasa inilah banyak orang menjalankan perilaku hidup tidak sehat dan pola makan yang kurang tepat serta menerapkan sedentary life style secara berlebihan.

Pada usia 20 tahun, pembentukan sel lemak akan terhenti. Gemuk yang terjadi pasca usia 20 tahun terjadi karena penambahan volume sel lemak, sehingga kegemukan pada saat bayi dan remaja bisa terbawa hingga dewasa. Untuk itu, perlu pola hidup dan pola makan yang tepat sejak dini.